Seorang kakek dan cucunya, perlahan melangkah pergi
meninggalkan gubug kecil di sebuah perkampungan yang
sudah puluhan tahun menjadi tempat berteduh mereka.
Gubug kecil beserta tanahnya yang merupakan satu-
satunya harta sang kakek itu kini telah berpindah tangan
menjadi milik Juragan Amir, tuan tanah dan rentenir
yang terkenal kejam di kampung itu.
Kaki sang Kakek terus berjalan, diikuti cucunya.
”Kita mau tinggal dimana Kek?”
”Tenang cucuku, bumi ini luas, kita pasti akan mendapat
tempat, berdoa saja pada Alloh yang Maha kaya!”
Sebagian masyarakat dikampung itu mengetahui
kepergian sang kakek, di jalan mereka bertanya,
”Hendak kemanakah engkau Kek, kasihan benar…, buruk
sekali nasibmu, hingga harus terusir dari rumahmu
sendiri!”
”Aku pergi mengikuti kakiku, jangan kau bilang nasibku
buruk, cukup katakan saja bahwa aku harus
meninggalkan rumahku.” jawab sang kakek.
Kakek dan cucu itu selanjutnya memutuskan tinggal dan
membangun gubug di sebidang tanah di tepi hutan,
dimana tidak ada seseorang yang merasa memiliki tanah
itu.
Hari-hari berlalu, kakek dan cucunya, amat menikmati
kehidupan di pinggir hutan yang terpencil itu. Suatu hari,
tak tahu dari mana asalnya ada seekor kuda liar putih
yang sanggat gagah dan bagus berputar-putar disekitar
gubug kakek. Kuda itu tampak jinak dan seakan-akan
meminta kakek untuk memelihara dirinya. Kuda itupun
dipelihara sang kakek dengan penuh kasih sayang. Kabar
mengenai kuda itu sampai ke perkampungan, banyak
orang datang untuk menyaksikan keelokan kuda itu,
mereka tertarik untuk membeli kuda itu, dengan harga
berapapun, termasuk Juragan Amair ingin membeli kuda
itu dengan harga tinggi.
”Aku tidak akan menjualnya, dia datang padaku untuk
kupelihara bukan untuk ku jual” jawab sang kakek, ketika
bergantian orang kampung datang untuk membeli kuda
itu.
”Dasar kakek sombong, keras kepala, orang miskin tak
tahu diuntung, dibeli tidak boleh rasakan nanti kalo
kudanya malah hilang!!” orang-orang menggerutu dan
sebel dengan sikap kakek yang tak mau menjual kudanya.
Selang beberapa hari ada kabar mengejutkan, kuda sang
kakek hilang.
Orang kampungpun kembali mendatangi gubug kakek
untuk membuktikan kabar itu.
”Rasakan sekarang, kalau kemarin dijual kan sudah jadi
duit, sekarang malah hilang, Alloh telah memberimu
adzab, karena kesombonganmu!!” orang kampung
mengolok-olok kakek.
”Jangan kau bilang begitu, cukup katakan kuda itu hilang,
cukup itu saja. Jangan ditambah ini adzab atau
keberuntungan, kita tidak pernah tahu dan tak berhak
untuk menentukan!” jawab sang kakek.
Selang dua hari kuda itu kembali dan membawa 12
temannya yang tak kalah gagah dan bagus.
Orang kampung kembali datang, dan berkata,
”Ternyata benar kata kakek, ini bukan adzab tapi
keberuntungan, nasib kakek benar-benar bagus
mempunyai 13 ekor kuda yang gagah-gagah!!”
”Sekali lagi jangan kau bilang begitu, cukup katakan
bahwa sekarang ada 13 kuda digubugku ini, cukup itu
saja, tak perlu katakan ini keberuntungan atau bukan,
kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok hari.” jawab
sang kakek.
Sekarang cucu kakek sehari-hari disibukkan dengan acara
menjinakkan kuda-kuda itu karena sebagian masih liar.
Ketika sedang menaiki kuda yang masih liar, tiba-tiba
cucu kakek terjatuh karena kuda itu meloncat-loncat,
sehingga kaki sang cucu patah. Karena terjatuh itu, kaki
cucu kakek lumpuh dan tidak bisa untuk berjalan. Orang
kampung kembali mendatangi kakek,
”Ternyata benar kata kakek, ini bukan keberuntungan tapi
sebuah adzab, gara-gara kuda itu kini cucu kakek
lumpuh, kasihan benar nasibmu Kek!”
”Jangan bilang begitu, cukup katakan kalau kaki cucuku
lumpuh. Cukup itu saja. Hidup ini seberti buku dengan
puluhan ribu halaman, kita tidak bisa menyimpulkan
hanya dengan membaca satu halaman, yang kita tahu
sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang sebenarnya
ada, berapa jumlah rambut di kepala kita saja kita tak
pernah tahu bagaimana mungkin kita dapat menilai apa
yang terjadi pada kita”
Orang-orangpun kembali dan tak habis mengerti dengan
cara berpikir kakek.
Beberapa bulan setelah peristiwa itu ada kabar bahwa
kerajaan akan berperang dan semua pemuda akan
dikirim kemedan pertempuran. Pertempuran kali ini
sangat berat, sehingga untuk dapat kembali dengan
selamat sangatlah kecil. Karena lumpuh cucu kakek tidak
ikut dikirim ke medan pertempuran. Orang-orang
kampungpun kembali datang dan memberi selamat
kepada kakek, karena cucunya tidak harus pergi ke
medan perang yang berat itu.
”Kata kakek benar, kelumpuhan cucu kakek ternyata
bukan nasib buruk tapi justru sebuah keberuntungan!”
”Aku bosan berbicara dengan kalian…………………!!” jawab
sang sambil terus asyik membelai dan memberi makan
kuda-kudanya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar