Seorang kakek dan cucunya, perlahan melangkah pergi
meninggalkan gubug kecil di sebuah perkampungan yang
sudah puluhan tahun menjadi tempat berteduh mereka.
Gubug kecil beserta tanahnya yang merupakan satu-
satunya harta sang kakek itu kini telah berpindah tangan
menjadi milik Juragan Amir, tuan tanah dan rentenir
yang terkenal kejam di kampung itu.
Kaki sang Kakek terus berjalan, diikuti cucunya.
”Kita mau tinggal dimana Kek?”
”Tenang cucuku, bumi ini luas, kita pasti akan mendapat
tempat, berdoa saja pada Alloh yang Maha kaya!”
Sebagian masyarakat dikampung itu mengetahui
kepergian sang kakek, di jalan mereka bertanya,
”Hendak kemanakah engkau Kek, kasihan benar…, buruk
sekali nasibmu, hingga harus terusir dari rumahmu
sendiri!”
”Aku pergi mengikuti kakiku, jangan kau bilang nasibku
buruk, cukup katakan saja bahwa aku harus
meninggalkan rumahku.” jawab sang kakek.
Kakek dan cucu itu selanjutnya memutuskan tinggal dan
membangun gubug di sebidang tanah di tepi hutan,
dimana tidak ada seseorang yang merasa memiliki tanah
itu.
Hari-hari berlalu, kakek dan cucunya, amat menikmati
kehidupan di pinggir hutan yang terpencil itu. Suatu hari,
tak tahu dari mana asalnya ada seekor kuda liar putih
yang sanggat gagah dan bagus berputar-putar disekitar
gubug kakek. Kuda itu tampak jinak dan seakan-akan
meminta kakek untuk memelihara dirinya. Kuda itupun
dipelihara sang kakek dengan penuh kasih sayang. Kabar
mengenai kuda itu sampai ke perkampungan, banyak
orang datang untuk menyaksikan keelokan kuda itu,
mereka tertarik untuk membeli kuda itu, dengan harga
berapapun, termasuk Juragan Amair ingin membeli kuda
itu dengan harga tinggi.
”Aku tidak akan menjualnya, dia datang padaku untuk
kupelihara bukan untuk ku jual” jawab sang kakek, ketika
bergantian orang kampung datang untuk membeli kuda
itu.
”Dasar kakek sombong, keras kepala, orang miskin tak
tahu diuntung, dibeli tidak boleh rasakan nanti kalo
kudanya malah hilang!!” orang-orang menggerutu dan
sebel dengan sikap kakek yang tak mau menjual kudanya.
Selang beberapa hari ada kabar mengejutkan, kuda sang
kakek hilang.
Orang kampungpun kembali mendatangi gubug kakek
untuk membuktikan kabar itu.
”Rasakan sekarang, kalau kemarin dijual kan sudah jadi
duit, sekarang malah hilang, Alloh telah memberimu
adzab, karena kesombonganmu!!” orang kampung
mengolok-olok kakek.
”Jangan kau bilang begitu, cukup katakan kuda itu hilang,
cukup itu saja. Jangan ditambah ini adzab atau
keberuntungan, kita tidak pernah tahu dan tak berhak
untuk menentukan!” jawab sang kakek.
Selang dua hari kuda itu kembali dan membawa 12
temannya yang tak kalah gagah dan bagus.
Orang kampung kembali datang, dan berkata,
”Ternyata benar kata kakek, ini bukan adzab tapi
keberuntungan, nasib kakek benar-benar bagus
mempunyai 13 ekor kuda yang gagah-gagah!!”
”Sekali lagi jangan kau bilang begitu, cukup katakan
bahwa sekarang ada 13 kuda digubugku ini, cukup itu
saja, tak perlu katakan ini keberuntungan atau bukan,
kita tidak pernah tahu apa yang terjadi esok hari.” jawab
sang kakek.
Sekarang cucu kakek sehari-hari disibukkan dengan acara
menjinakkan kuda-kuda itu karena sebagian masih liar.
Ketika sedang menaiki kuda yang masih liar, tiba-tiba
cucu kakek terjatuh karena kuda itu meloncat-loncat,
sehingga kaki sang cucu patah. Karena terjatuh itu, kaki
cucu kakek lumpuh dan tidak bisa untuk berjalan. Orang
kampung kembali mendatangi kakek,
”Ternyata benar kata kakek, ini bukan keberuntungan tapi
sebuah adzab, gara-gara kuda itu kini cucu kakek
lumpuh, kasihan benar nasibmu Kek!”
”Jangan bilang begitu, cukup katakan kalau kaki cucuku
lumpuh. Cukup itu saja. Hidup ini seberti buku dengan
puluhan ribu halaman, kita tidak bisa menyimpulkan
hanya dengan membaca satu halaman, yang kita tahu
sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang sebenarnya
ada, berapa jumlah rambut di kepala kita saja kita tak
pernah tahu bagaimana mungkin kita dapat menilai apa
yang terjadi pada kita”
Orang-orangpun kembali dan tak habis mengerti dengan
cara berpikir kakek.
Beberapa bulan setelah peristiwa itu ada kabar bahwa
kerajaan akan berperang dan semua pemuda akan
dikirim kemedan pertempuran. Pertempuran kali ini
sangat berat, sehingga untuk dapat kembali dengan
selamat sangatlah kecil. Karena lumpuh cucu kakek tidak
ikut dikirim ke medan pertempuran. Orang-orang
kampungpun kembali datang dan memberi selamat
kepada kakek, karena cucunya tidak harus pergi ke
medan perang yang berat itu.
”Kata kakek benar, kelumpuhan cucu kakek ternyata
bukan nasib buruk tapi justru sebuah keberuntungan!”
”Aku bosan berbicara dengan kalian…………………!!” jawab
sang sambil terus asyik membelai dan memberi makan
kuda-kudanya
Kamis, 30 Januari 2014
Mengapa Pria Dilarang Memakai Emas
Atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit
melalui pori2 dan masuk ke dalam darah manusia.
Jikaseorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu
dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang
ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan
mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas
(dikenal dengan sebutan migrasi emas).
Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama,
maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.sebab jika
tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom
emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu
penyakit alzheimer.
Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut
kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta
menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan
penuaan normal,tetapi merupakan penuaan paksaan atau
terpaksa.salah seorang yang terkenapenyakit alzheimer
adalah charles bronson,ralph waldo emerson dan sugar
ray robinson.
Sedangkan, mengapa Islam memperbolehkan wanita untuk
mengenakan emas ?
Jawabannya adalah..
"Wanita tidak menderita masalah inikarena setiap bulan,
partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita
melalui menstruasi." itulah sebabnya islam mengharamkan
pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai
perhiasan emas.
itulah alasan agama Islam melarang pria memakai
emas,ternyata hal ini telah diketahui Rasulullah
muhammad sallallahu alaihi wasallam 1400 tahun yang
lalu. Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika dan
tidak paham tentang fisika.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang kaum laki-
laki memakai cincin emas.
Al-Bukhari dan Muslim masing-masing dari Al-Bara' bin
Azib Radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin
emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya
mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke
tanah.(HR. Bukhori & Muslim)
Semoga Bermanfa'at
Wallahu A'lam
melalui pori2 dan masuk ke dalam darah manusia.
Jikaseorang pria mengenakan emas dalam jumlah tertentu
dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang
ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan
mengandung atom emas dalam kadar yang melebihi batas
(dikenal dengan sebutan migrasi emas).
Dan apabila ini terjadi dalam jangka waktu yang lama,
maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.sebab jika
tidak di buang maka dalam jangka waktu yang lama atom
emas dalam darah ini akan sampai ke otak dan memicu
penyakit alzheimer.
Alzheimer adalah suatu penyakit dimana orang tersebut
kehilangan semua kemampuan mental dan fisik serta
menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan
penuaan normal,tetapi merupakan penuaan paksaan atau
terpaksa.salah seorang yang terkenapenyakit alzheimer
adalah charles bronson,ralph waldo emerson dan sugar
ray robinson.
Sedangkan, mengapa Islam memperbolehkan wanita untuk
mengenakan emas ?
Jawabannya adalah..
"Wanita tidak menderita masalah inikarena setiap bulan,
partikel berbahaya tersebut keluar dari tubuh wanita
melalui menstruasi." itulah sebabnya islam mengharamkan
pria memakai emas dan membolehkan wanita memakai
perhiasan emas.
itulah alasan agama Islam melarang pria memakai
emas,ternyata hal ini telah diketahui Rasulullah
muhammad sallallahu alaihi wasallam 1400 tahun yang
lalu. Padahal beliau tidak pernah belajar ilmu fisika dan
tidak paham tentang fisika.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang kaum laki-
laki memakai cincin emas.
Al-Bukhari dan Muslim masing-masing dari Al-Bara' bin
Azib Radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai cincin
emas di tangannya, maka beliau memintanya supaya
mencopot cincinnya, kemudian melemparkannya ke
tanah.(HR. Bukhori & Muslim)
Semoga Bermanfa'at
Wallahu A'lam
KAROMAH “SYAIKHONA. KHOLIL BANGKALAN” Berguru Dalam Mimpi
Pada waktu Syeikh Kholil masih muda, ada seorang Kiai
yang terkenal di daerah Wilungan, Pasuruan bernama
Abu Darrin. Kealimannya tidak hanya terbatas di
lingkungan Pasuruan, tetapi sudah menyebar ke
berbagai daerah lain, termasuk Madura. Kholil muda
yang mendengar ada ulama yang mumpuni itu, terbetik
di hatinya ingin menimba ilmunya. Setelah segala
perbekalan dipersiapkan, maka berangkatlah Kholil
muda ke pesantren Abu Darrin dengan harapan dapat
segera bertemu dengan ulama yang dikagumi itu.Tetapi
alangkah sedihnya ketika dia sampai di Pesantren
Wilungan, ternyata Kiai Abu Darrin telah meninggal
dunia beberapa
hari sebelumnya. Hatinya dirundung duka dengan
kepergian Kiai Abu Darrin. Namun karena tekad
belajarnya sangat menggelora maka Kholil segera sowan
ke makam Kiai Abu Darrin. Setibanya di makam Abu
Darrin, Kholil lalu mengucapkan salam lalu berkata:
bagaimana saya ini Kiai, saya masih ingin berguru pada
Kiai, tetapi Kiai sudah meninggal
desah Kholil sambil menangis. Kholil lalu mengambil
sebuah mushaf Al Quran. Kemudian bertawassul dengan
membaca Al Quran terus menerus sampai 41 hari
lamanya.Pada hari ke-41 tiba-tiba datanglah Kiai Abu
Darrin dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Kiai Abu
Darrin mengajarkan beberapa ilmunya kepada Kholil.
Setelah dia bangun dari tidurnya, lalu Kholil serta merta
dapat menghafal kitab Imriti, Kitab Asmuni dan Alfiyah.
Di Datangi Macan
Suatu hari di bulan Syawal. Kiai Kholil tiba-tiba
memanggil santrinya. Anak-anakku, sejak hari ini kalian
harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu
gerbang
harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan
masuk ke pondok kita ini.” Kata Syeikh Kholil agak serius.
Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera
para santri mempersiapkan diri. Waktu itu sebelah timur
Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup
lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin
diperketat, tetapi macan yang ditungu-tunggu itu belum
tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke
pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit
kuning langsat sambil menenteng kopor seng.
Sesampainya di depan pintu rumah SyeikhKholil, lalu
mengucap salam. Mendengar salam itu, bukan jawaban
salam yang diterima, tetapi Kiai malah berteriak
memanggil santrinya ; Hey santri semua, ada
macan….macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai
masuk ke pondok.” Seru Syeikh Kholil bak seorang
komandan di medan perang.Mendengar teriakan Syeikh
kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil
membawa apa yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul
untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang
mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan lagi
kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin
nyantri ke Syeikh Kholil begitu menggelora, maka
keesokan harinya mencoba untuk datang lagi. Begitu
memasuki pintu gerbang pesantren, langsung
disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga
keesokan harinya. Baru pada malam ketiga, pemuda
yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara
diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda
itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya
tertidur di bawah kentongan surau.Secara tidak diduga,
tengah malam Syeikh Kholil datang dan membantu
membangunkannya. Karuan saja dimarahi habis-
habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Syeikh Kholil.
Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda
itu merasa lega setelah resmi diterima sebagai santri
Syeikh Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab
Hasbullah. Kelak kemudian hari santri yang diisyaratkan
macan itu, dikenal dengan nama KH. Wahab Hasbullah,
seorang Kiai yang sangat alim, jagoan berdebat,
pembentuk komite Hijaz, pembaharu pemikiran.
Kehadiran KH Wahab Hasbullah di mana-mana selalu
berwibawa dan sangat disegani baik kawan maupun
lawan bagaikan seekor macan, seperti yang diisyaratkan
Syeikh Kholil.
SANTRI MIMPI DENGAN WANITA
Dan diantara karomahnya, pada suatu hari menjelang
pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah,
dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa sholat subuh
berjamaah. Ketidak ikutsertaanBahar sholat subuh
berjamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan
halangan junub. Semalam Bahar bermimpi tidurdengan
seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar.
Sebab wanita itu adalah istri Kiai Kholil, istri gurunya.
Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar
sambil membawa sebilah pedang seraya berucap:“Santri
kurang ajar.., santri kurang ajar…..Para santri yang
sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa
heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud
santri kurang ajar itu.
Subuh itu Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah,
tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid.Seusai
sholat subuh berjamaah, Kiai Kholil menghadapkan
wajahnya kepada semua santri seraya bertanya ; Siapa
santri yang tidak ikut berjamaah?” Ucap Kiai Kholil nada
menyelidik.Semua santri merasa terkejut, tidak
menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para
santri menoleh ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang
tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah
Bahar. Kemudian Kiai Kholil memerintahkan mencari
Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan
lalu dibawa ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam
kepada bahar seraya berkata ; Bahar, karena kamu tidak
hadir sholat subuh berjamaah maka harus dihukum.
Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren
dengan petok ini Perintah Kiai Kholil. Petok adalah
sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah
menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan
dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang
dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat
sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan
memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali.
Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik.
Alhamdulillah, sudah selesai, Kiai Ucap Bahar dengan
sopan dan rendah hati. Kalau begitu, sekarang kamu
makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis,
Perintah Kiai kepada Bahar.Sekali lagi santri Bahar
dengan patuh menerima hukuman dari Kiai Kholil.
Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua,
santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai
habis yang ada di nampan yang telah tersedia.
Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua
buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri
Bahar diusir oleh Kiai Kholil seraya berucap ; Hai santri,
semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini ucap Kiai
Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar. Dengan perasaan
senang dan mantap santri Bahar pulang
meninggalkan pesantren Kiai Kholil menuju kampung
halamannya.Memang benar, tak lama setelah itu, santri
yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu,
menjadi Kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah
pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kia beruntung
itu bernama Kiai Bahar, seorang Kiai besar dengan
ribuan santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Sido
Giri, Pasuruan, Jawa Timur.
Orang Arab Dan Macan Tutul
Suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya
Kiai Kholil mengimami jamaah sholat bersama para
santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil
mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan tamu
berbangsa Arab. Orang Madura menyebutnya Habib.
Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil menemui
tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu.
Sebagai orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa
Arab. Habib menghampiri Kiai Kholil seraya berucap ;
Kiai, bacaan Al- Fatihah antum (anda) kurang fasih tegur
Habib. Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib
dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan
sholat magrib. Tempat wudlu ada di sebelah masjid itu.
Silahkan ambil wudlu di sana ucap Kiai sambil
menunjukkan arah tempat wudlu.
Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan
dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan
berteriak dengan bahasa Arabnya, yang fasih untuk
mengusir macan tutul yang makin mendekat itu.
Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih
untuk mengusir macan tutul, namun macan itu tidak
pergi juga.Mendengar ribut-ribut di sekitar tempat
wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada
macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai
Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang
kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar
kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya
kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh. Dengan
kejadian ini, Habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil
bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa
suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak
fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna
dalam ungkapan itu.
Jawaban Syeikh Kholil kepada tamunya
Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat
dengan seorang ulama, manakah pendapat yang paling
sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca
‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah
‘maliki’ (tanpa alif).Setelah berdebat tidak ada titik temu.
Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi
Keramat; Kiyahi Khalil bangkalan.
Ketika
itu Kiyahi yang jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu
sedang duduk didalam mushala, saat rombongan Habib
Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kiyahi Khalil
berteriak. Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki
yaumiddin Habib, teriak Kiyahi Khalil bangkalan
menyambut kedatangan Habib Jindan.
Tentu
saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang
Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal
sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin
itu.
Demikian
cerita Habib Lutfi bin Yahya ketika menjelaskan
perbendaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu
pada Tafsir Thabari.
Tongkat Syeikh Kholil Dan Sumber
Mata Air
Suatu hari Kiai Kholil berjalan ke arah selatan Bangkalan.
Beberapa santri menyertainya. Setelah berjalan cukup
jauh, tepatnya sampai di desa Langgundi, tiba-tiba Kiai
Kholil menghentikan perjalanannya. Setelah melihat
tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil
menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lobang
bekas tancapan Kiai Kholil, memancarlah sumber air
yang sangat jernih. Semakin lama semakin besar.
Bahkan karena terus membesar, sumber air tersebut
akhirnya menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum
dan mandi. Kolam yang bersejarah itu sampai sekarang
masih ada. Orang Madura menamakannya Kolla Al-Asror
Langgundi. Letaknya sekitar 1 km sebelah selatan
kompleks pemakaman Kiai Kholil Bangkalan.(dari
berbagai sumber)
yang terkenal di daerah Wilungan, Pasuruan bernama
Abu Darrin. Kealimannya tidak hanya terbatas di
lingkungan Pasuruan, tetapi sudah menyebar ke
berbagai daerah lain, termasuk Madura. Kholil muda
yang mendengar ada ulama yang mumpuni itu, terbetik
di hatinya ingin menimba ilmunya. Setelah segala
perbekalan dipersiapkan, maka berangkatlah Kholil
muda ke pesantren Abu Darrin dengan harapan dapat
segera bertemu dengan ulama yang dikagumi itu.Tetapi
alangkah sedihnya ketika dia sampai di Pesantren
Wilungan, ternyata Kiai Abu Darrin telah meninggal
dunia beberapa
hari sebelumnya. Hatinya dirundung duka dengan
kepergian Kiai Abu Darrin. Namun karena tekad
belajarnya sangat menggelora maka Kholil segera sowan
ke makam Kiai Abu Darrin. Setibanya di makam Abu
Darrin, Kholil lalu mengucapkan salam lalu berkata:
bagaimana saya ini Kiai, saya masih ingin berguru pada
Kiai, tetapi Kiai sudah meninggal
desah Kholil sambil menangis. Kholil lalu mengambil
sebuah mushaf Al Quran. Kemudian bertawassul dengan
membaca Al Quran terus menerus sampai 41 hari
lamanya.Pada hari ke-41 tiba-tiba datanglah Kiai Abu
Darrin dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Kiai Abu
Darrin mengajarkan beberapa ilmunya kepada Kholil.
Setelah dia bangun dari tidurnya, lalu Kholil serta merta
dapat menghafal kitab Imriti, Kitab Asmuni dan Alfiyah.
Di Datangi Macan
Suatu hari di bulan Syawal. Kiai Kholil tiba-tiba
memanggil santrinya. Anak-anakku, sejak hari ini kalian
harus memperketat penjagaan pondok pesantren. Pintu
gerbang
harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan
masuk ke pondok kita ini.” Kata Syeikh Kholil agak serius.
Mendengar tutur guru yang sangat dihormati itu, segera
para santri mempersiapkan diri. Waktu itu sebelah timur
Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup
lebat dan angker. Hari demi hari, penjagaan semakin
diperketat, tetapi macan yang ditungu-tunggu itu belum
tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah ke
pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit
kuning langsat sambil menenteng kopor seng.
Sesampainya di depan pintu rumah SyeikhKholil, lalu
mengucap salam. Mendengar salam itu, bukan jawaban
salam yang diterima, tetapi Kiai malah berteriak
memanggil santrinya ; Hey santri semua, ada
macan….macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai
masuk ke pondok.” Seru Syeikh Kholil bak seorang
komandan di medan perang.Mendengar teriakan Syeikh
kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil
membawa apa yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul
untuk mengepung pemuda yang baru datang tadi yang
mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan lagi
kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin
nyantri ke Syeikh Kholil begitu menggelora, maka
keesokan harinya mencoba untuk datang lagi. Begitu
memasuki pintu gerbang pesantren, langsung
disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga
keesokan harinya. Baru pada malam ketiga, pemuda
yang pantang mundur ini memasuki pesantren secara
diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda
itu, yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya
tertidur di bawah kentongan surau.Secara tidak diduga,
tengah malam Syeikh Kholil datang dan membantu
membangunkannya. Karuan saja dimarahi habis-
habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Syeikh Kholil.
Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda
itu merasa lega setelah resmi diterima sebagai santri
Syeikh Kholil. Pemuda itu bernama Abdul Wahab
Hasbullah. Kelak kemudian hari santri yang diisyaratkan
macan itu, dikenal dengan nama KH. Wahab Hasbullah,
seorang Kiai yang sangat alim, jagoan berdebat,
pembentuk komite Hijaz, pembaharu pemikiran.
Kehadiran KH Wahab Hasbullah di mana-mana selalu
berwibawa dan sangat disegani baik kawan maupun
lawan bagaikan seekor macan, seperti yang diisyaratkan
Syeikh Kholil.
SANTRI MIMPI DENGAN WANITA
Dan diantara karomahnya, pada suatu hari menjelang
pagi, santri bernama Bahar dari Sidogiri merasa gundah,
dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa sholat subuh
berjamaah. Ketidak ikutsertaanBahar sholat subuh
berjamaah bukan karena malas, tetapi disebabkan
halangan junub. Semalam Bahar bermimpi tidurdengan
seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar.
Sebab wanita itu adalah istri Kiai Kholil, istri gurunya.
Menjelang subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar
sambil membawa sebilah pedang seraya berucap:“Santri
kurang ajar.., santri kurang ajar…..Para santri yang
sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa
heran dan tanda tanya, apa dan siapa yang dimaksud
santri kurang ajar itu.
Subuh itu Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah,
tetapi bersembunyi di belakang pintu masjid.Seusai
sholat subuh berjamaah, Kiai Kholil menghadapkan
wajahnya kepada semua santri seraya bertanya ; Siapa
santri yang tidak ikut berjamaah?” Ucap Kiai Kholil nada
menyelidik.Semua santri merasa terkejut, tidak
menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para
santri menoleh ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang
tidak hadir. Ternyata yang tidak hadir waktu itu hanyalah
Bahar. Kemudian Kiai Kholil memerintahkan mencari
Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan
lalu dibawa ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam
kepada bahar seraya berkata ; Bahar, karena kamu tidak
hadir sholat subuh berjamaah maka harus dihukum.
Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren
dengan petok ini Perintah Kiai Kholil. Petok adalah
sejenis pisau kecil, dipakai menyabit rumput. Setelah
menerima perintah itu, segera Bahar melaksanakan
dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang
dua rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat
sederhana sekali, tentu sangat kesulitan dan
memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali.
Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik.
Alhamdulillah, sudah selesai, Kiai Ucap Bahar dengan
sopan dan rendah hati. Kalau begitu, sekarang kamu
makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis,
Perintah Kiai kepada Bahar.Sekali lagi santri Bahar
dengan patuh menerima hukuman dari Kiai Kholil.
Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua,
santri Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai
habis yang ada di nampan yang telah tersedia.
Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua
buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri
Bahar diusir oleh Kiai Kholil seraya berucap ; Hai santri,
semua ilmuku sudah dicuri oleh orang ini ucap Kiai
Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar. Dengan perasaan
senang dan mantap santri Bahar pulang
meninggalkan pesantren Kiai Kholil menuju kampung
halamannya.Memang benar, tak lama setelah itu, santri
yang mendapat isyarat mencuri ilmu Kiai Kholil itu,
menjadi Kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah
pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kia beruntung
itu bernama Kiai Bahar, seorang Kiai besar dengan
ribuan santri yang diasuhnya di Pondok Pesantren Sido
Giri, Pasuruan, Jawa Timur.
Orang Arab Dan Macan Tutul
Suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya
Kiai Kholil mengimami jamaah sholat bersama para
santri Kedemangan. Bersamaan dengan Kiai Kholil
mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan tamu
berbangsa Arab. Orang Madura menyebutnya Habib.
Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil menemui
tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu.
Sebagai orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa
Arab. Habib menghampiri Kiai Kholil seraya berucap ;
Kiai, bacaan Al- Fatihah antum (anda) kurang fasih tegur
Habib. Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib
dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan
sholat magrib. Tempat wudlu ada di sebelah masjid itu.
Silahkan ambil wudlu di sana ucap Kiai sambil
menunjukkan arah tempat wudlu.
Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan
dengan munculnya macan tutul. Habib terkejut dan
berteriak dengan bahasa Arabnya, yang fasih untuk
mengusir macan tutul yang makin mendekat itu.
Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih
untuk mengusir macan tutul, namun macan itu tidak
pergi juga.Mendengar ribut-ribut di sekitar tempat
wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada
macan yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai
Kholil mengucapkan sepatah dua patah kata yang
kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar
kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya
kurang fasih itu, macan tutul bergegas menjauh. Dengan
kejadian ini, Habib paham bahwa sebetulnya Kiai Kholil
bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa
suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak
fasih, melainkan sejauh mana penghayatan makna
dalam ungkapan itu.
Jawaban Syeikh Kholil kepada tamunya
Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat
dengan seorang ulama, manakah pendapat yang paling
sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca
‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah
‘maliki’ (tanpa alif).Setelah berdebat tidak ada titik temu.
Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi
Keramat; Kiyahi Khalil bangkalan.
Ketika
itu Kiyahi yang jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu
sedang duduk didalam mushala, saat rombongan Habib
Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kiyahi Khalil
berteriak. Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki
yaumiddin Habib, teriak Kiyahi Khalil bangkalan
menyambut kedatangan Habib Jindan.
Tentu
saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang
Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal
sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin
itu.
Demikian
cerita Habib Lutfi bin Yahya ketika menjelaskan
perbendaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu
pada Tafsir Thabari.
Tongkat Syeikh Kholil Dan Sumber
Mata Air
Suatu hari Kiai Kholil berjalan ke arah selatan Bangkalan.
Beberapa santri menyertainya. Setelah berjalan cukup
jauh, tepatnya sampai di desa Langgundi, tiba-tiba Kiai
Kholil menghentikan perjalanannya. Setelah melihat
tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil
menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lobang
bekas tancapan Kiai Kholil, memancarlah sumber air
yang sangat jernih. Semakin lama semakin besar.
Bahkan karena terus membesar, sumber air tersebut
akhirnya menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum
dan mandi. Kolam yang bersejarah itu sampai sekarang
masih ada. Orang Madura menamakannya Kolla Al-Asror
Langgundi. Letaknya sekitar 1 km sebelah selatan
kompleks pemakaman Kiai Kholil Bangkalan.(dari
berbagai sumber)
Kisah Syaitan Menolong Seorang Pemuda Ke Masjid
Kisah ini bermula apabila seorang pemuda bangun pada
awal pagi untuk solat Subuh di masjid. Dia berpakaian,
berwudhu dan berjalan menuju ke masjid. Di pertengahan
jalan menuju ke masjid, pemuda tersebut jatuh dan
pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya dan pulang kembali ke
rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu dan
berjalan menuju ke masjid.
Dalam perjalanan ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yang
sama. Dia sekali lagi bangkit, membersihkan dirinya dan
kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi berganti baju,
berwudhu dan berjalan menuju ke masjid.
Di tengah jalan menuju ke masjid, dia bertemu seorang
lelaki yang memegang lampu.
Dia menanyakan identitas lelaki tersebut dan lelaki tersebut
menjawab "Saya melihat anda jatuh dua kali di perjalanan
menuju ke masjid, jadi saya bawakan lampu untuk
menerangi jalan anda."
Pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan mereka
berdua berjalan menuju ke masjid.
Apabila mereka sampai di masjid, pemuda tersebut
bertanya kepada lelaki yang membawa lampu untuk masuk
dan solat Subuh bersamanya. Lelaki itu menolak, pemuda
itu mengajak lagi hingga berkali-kali tetapi jawabannya
sama.
Pemuda itu bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan
solat Subuh bersama ?
Lalu lelaki itu menjawab...
"Aku adalah IBLIS..."
Pemuda itu terkejut dengan jawapan lelaki itu.
Iblis kemudian menjelaskan, "Saya melihat kamu berjalan
ke masjid dan sayalah yang membuat kamu terjatuh.
Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan
kembali ke masjid, Allah memaafkan SEMUA DOSAMU.
Saya sengaja membuat kamu terjatuh 2 kali dan itupun
tidak membuat kamu jadi berubah pikiran, bahkan kamu
tetap memutuskan kembali untuk ke masjid.
Karena hal itu, Allah memaafkan DOSA-DOSA SELURUH
ANGGOTA KELUARGAMU.
Saya bimbang jika saya membuat kamu jatuh untuk ketiga
kalinya, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa - dosa
seluruh penduduk kampungmu jadi saya harus
memastikan bahwa kamu sampai di masjid dengan
selamat."
SUBHANALLAH...
Semoga ALLAH memberikan hikmah dan hidayah agar bisa
mengambil pelajaran dari kisah tersebut aamiin..
awal pagi untuk solat Subuh di masjid. Dia berpakaian,
berwudhu dan berjalan menuju ke masjid. Di pertengahan
jalan menuju ke masjid, pemuda tersebut jatuh dan
pakaiannya kotor.
Dia bangkit, membersihkan bajunya dan pulang kembali ke
rumah. Di rumah, dia berganti baju, berwudhu dan
berjalan menuju ke masjid.
Dalam perjalanan ke masjid, dia jatuh lagi di tempat yang
sama. Dia sekali lagi bangkit, membersihkan dirinya dan
kembali ke rumah. Di rumah, dia sekali lagi berganti baju,
berwudhu dan berjalan menuju ke masjid.
Di tengah jalan menuju ke masjid, dia bertemu seorang
lelaki yang memegang lampu.
Dia menanyakan identitas lelaki tersebut dan lelaki tersebut
menjawab "Saya melihat anda jatuh dua kali di perjalanan
menuju ke masjid, jadi saya bawakan lampu untuk
menerangi jalan anda."
Pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan mereka
berdua berjalan menuju ke masjid.
Apabila mereka sampai di masjid, pemuda tersebut
bertanya kepada lelaki yang membawa lampu untuk masuk
dan solat Subuh bersamanya. Lelaki itu menolak, pemuda
itu mengajak lagi hingga berkali-kali tetapi jawabannya
sama.
Pemuda itu bertanya, kenapa menolak untuk masuk dan
solat Subuh bersama ?
Lalu lelaki itu menjawab...
"Aku adalah IBLIS..."
Pemuda itu terkejut dengan jawapan lelaki itu.
Iblis kemudian menjelaskan, "Saya melihat kamu berjalan
ke masjid dan sayalah yang membuat kamu terjatuh.
Ketika kamu pulang ke rumah, membersihkan badan dan
kembali ke masjid, Allah memaafkan SEMUA DOSAMU.
Saya sengaja membuat kamu terjatuh 2 kali dan itupun
tidak membuat kamu jadi berubah pikiran, bahkan kamu
tetap memutuskan kembali untuk ke masjid.
Karena hal itu, Allah memaafkan DOSA-DOSA SELURUH
ANGGOTA KELUARGAMU.
Saya bimbang jika saya membuat kamu jatuh untuk ketiga
kalinya, jangan-jangan Allah akan memaafkan dosa - dosa
seluruh penduduk kampungmu jadi saya harus
memastikan bahwa kamu sampai di masjid dengan
selamat."
SUBHANALLAH...
Semoga ALLAH memberikan hikmah dan hidayah agar bisa
mengambil pelajaran dari kisah tersebut aamiin..
Pelajaran dari Kisah Sujudnya Para Malaikat kepada Adam
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menempatkan Adam dan anak keturunannya
dalam kedudukan yang mulia, lebih mulia dari para makhluk-Nya yang lain.
Salah satu bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah setelah Allah
menciptakan Adam, Allah perintahkan para malaikat untuk sujud kepada
Adam ‘alaihi shalatu wa salam.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.
Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.
Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.
Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)
Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.
Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).
Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.
Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.
Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.
Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)
Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)
Peristiwa sujudnya para malaikat kepada Adam terkadang menimbulkan polemik di sebagian umat Islam atau memang isu ini sengaja dilemparkan ke tengah-tengah umat Islam untuk menebar kerancuan dengan mempertanyakan “Mengapa Allah meridhai makhluk-Nya sujud kepada selain-Nya? Bukankah ini sama saja melegitimasi kesyirikan? Dan Iblis adalah hamba Allah yang benar-benar mentauhidkannya karena menolak untuk sujud kepada Adam”. Kurang lebih demikian kalimat rancu yang sering dibesar-besarkan oleh sebagian kalangan.
Yang perlu kita ketahui adalah para ulama membagi sujud ke dalam dua bagian; pertama, sujud ibadah dan yang kedua sujud (tahiyah) penghormatan.
Sujud ibadah hanya boleh dipersembahkan kepada Allah semata tidak boleh kepada selain-Nya. Allah tidak pernah memerintahkan satu pun dari makhluk-Nya untuk bersujud kepada selain-Nya dalam rangka untuk beribadah kepada makhluk tersebut. Para malaikat Allah perintahkan sujud kepada Adam bukan dalam rangka sujud ibadah tetapi sujud penghormatan.
Sujud penghormatan merupakan bagian dari syariat umat-umat terdahulu, kemudian amalan ini diharamkan dengan diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara contoh sujud penghormatan adalah sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam. Demikian juga mimpi Nabi Yusuf yang ia ceritakan kepada Ayahnya Nabi Ya’qub lalu mimpi itu menjadi kenyataan. Di dalam surat Yusuf dikisahkan,
إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ
(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (QS. Yusuf: 4)
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ
Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, “Wahai ayahku inilah ta´bir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan…” (QS. Yusuf: 100)
Inilah di antara contoh-contoh sujud penghormatan yang merupakan bagian dari syariat umat terdahulu.
Pengalaman serupa juga pernah terjadi kepada Muadz bin Jabal tatkala melihat ahlul kitab di Syam. Tatkala pulang dari Syam, Muadz sujud di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
مَا هَذَا يَا مُعَاذُ قَالَ أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَفْعَلُوا فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Apa-apaan ini, wahai Mu’adz?” Muadz menjawab, “Aku baru datang dari Syam. Yang kulakukan ini serupa dengan mereka, (orang-orang di sana) mereja sujud untuk uskup dan pendeta-pendeta mereka. Aku pun berkeinginan melakukannya kepadamu.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan kau lakukan. Seandainya aku memerintahkan seseorang untuk bersujud, maka akan kuperintahkan istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR Ibnu Majah, No. 1853).
Apa yang dilakukan penduduk Syam adalah contoh dari syariat terdahulu yang masih mereka amalkan, mereka sujud kepada pemuka-pemuka agama dan tokoh-tokoh mereka sebagai penghormatan untuk para pembesar tersebut, bukan untuk menyembah mereka.
Di antara contoh lainnya juga, ada seekor hewan melata yang sujud kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau melarangnya karena sujud kepada makhluk, baik itu sujud penghormatan terlebih lagi sujud untuk ibadah, haram hukumnya dalam syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam timbangan syariat Muhammad (baca: syariat Islam) sujud penghormatan sama saja dengan sujud ibadah, haram hukumnya apabila dipersembahkan kepada selain Allah.
Pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari peristiwa sujudnya para malaikat kepada Nabi Adam ‘alaihissalam adalah, iblis termasuk dari bangsa jin bukan dari golongan malaikat sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang.
Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan bangsa jin termasuk iblis, Allah ciptakan dari api. Allah berfirman,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya…” (QS. Al-Kahfi: 50)
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Saya lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf: 12)
Dengan demikian iblis bukanlah dari golongan malaikat, saat itu ia hanya bersama dengan para malaikat Allah yang taat. Ada yang menyatakan, dahulu iblis adalah bangsa jin yang taat kepada Allah. Inilah alasannya ia dimuliakan dengan dikumpulkan bersama para malaikat walaupun ia bukan malaikat. Namun akhirnya sifat sombongnya terlihat di hadapan para malaikat, tatkala Allah mengujinya dengan memerintahkan untuk sujud kepada Adam.
Pada waktu dhuha di hari Senin 12
Rabi’ul Awal 11 H (hari
wafatnya
Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam) masuklah putri beliau
Fathimah radhiyallahu anha ke dalam kamar Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam, lalu
dia menangis
saat masuk kamar Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Dia
menangis karena biasanya setiap kali dia masuk menemui
Rasullullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam, beliau berdiri dan
menciumnya di antara kedua
matanya, akan tetapi sekarang
beliau tidak mampu berdiri untuknya. Maka Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
bersabda kepadanya:
”Mendekatlah kemari wahai
Fathimah.” Beliaupun
membisikkan sesuatu di telinganya, maka dia pun
menangis. Kemudian beliau
bersabda lagi untuk kedua
kalinya:” Mendekatlah kemari
wahai Fathimah.” Beliaupun
membisikkan sesuatu sekali lagi, maka diapun tertawa. Maka
setelah kematian Rasulullah
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam,
mereka bertanya kepada
Fathimah : “Apa yg telah
dibisikkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
kepadamu sehingga engkau
menangis, dan apa pula yang
beliau bisikkan hingga engkau
tertawa?” Fathimah berkata:
”Pertama kalinya beliau berkata
kepadaku: ”Wahai Fathimah,
aku akan meninggal malam ini.”
Maka akupun menangis. Maka
saat
beliau mendapati tangisanku beliau kembali berkata
kepadaku:” Engkau wahai
Fathimah, adalah keluargaku yg
pertama kali akan bertemu
denganku.” Maka akupun
tertawa. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam memanggil Hasan dan
Husain, beliau mencium keduanya
dan berwasiat kebaikan kepada
keduanya. Lalu Nabi Shalallahu
‘Alaihi Wassalam memanggil semua istrinya, menasehati dan
mengingatkan mereka. Beliau
berwasiat kepada seluruh
manusia yang hadir agar menjaga
shalat. Beliau mengulang-ulang
wasiat itu. Lalu rasa sakitpun terasa semakin
berat, maka beliau bersabda:”
Keluarkanlah siapa saja dari
rumahku.” Beliau bersabda:”
Mendekatlah kepadaku wahai
‘Aisyah!” Beliaupun tidur di dada istri beliau ‘Aisyah
radhiyallahu anha. ‘Aisyah
berkata:” Beliau mengangkat
tangan beliau seraya bersabda:”
Bahkan Ar-Rafiqul A’la bahkan
Ar-Rafiqul A’la.” Maka diketahuilah bahwa disela-sela
ucapan beliau, beliau disuruh
memilih diantara kehidupan dunia
atau Ar-Rafiqul A’la. Masuklah
malaikat Jibril alaihis
salam menemui Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam seraya
berkata:” Malaikat maut ada di
pintu, meminta izin untuk
menemuimu, dan dia tidak pernah
meminta izin kepada seorangpun
sebelummu.” Maka beliau berkata kepadanya:” Izinkan
untuknya wahai Jibril.”
Masuklah
malaikat Maut seraya berkata:”
Assalamu’alaika wahai
Rasulullah. Allah telah mengutusku
untuk memberikan pilihan
kepadamu antara tetap tinggal di
dunia atau bertemu dengan Allah
di Akhirat.” Maka Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:”
Bahkan aku memilih Ar-Rafiqul
A’la (Teman yang tertinggi),
bahkan aku memilih Ar-Rafiqul
A’la, bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu :para
nabi, para shiddiqiin, orang-orang
yg
mati syahid dan orang-orang
saleh. Dan mereka itulah rafiq
(teman) yang sebaik-baiknya.” ‘Aisyah menuturkan bahwa
sebelum Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam wafat, ketika
beliau bersandar pada dadanya,
dan dia mendengarkan beliau
secara seksama, beliau berdo’a: “Ya Allah, ampunilah aku,
rahmatilah aku dan susulkan aku
pada ar-rafiq al-a’la. Ya Allah
(aku minta) ar-rafiq al-a’la, Ya
Allah (aku minta) ar-rafiq al-
a’la.” Berdirilah malaikat Maut disisi kepala Nabi Shalallahu
‘Alaihi Wassalam- sebagaimana
dia berdiri di sisi kepala salah
seorang diantara kita- dan
berkata:” Wahai roh yang
bagus, roh Muhammad ibn Abdillah,
keluarlah menuju keridhaan
Allah,
dan menuju Rabb yang ridha dan
tidak murka.” Sayyidah
‘Aisyah berkata:”Maka jatuhlah tangan
Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam, dan kepala beliau
menjadi berat di atas dadaku, dan
sungguh aku telah tahu bahwa
beliau telah wafat.” Dia berkata:”Aku tidak tahu apa
yang harus aku lakukan, tidak
ada
yang kuperbuat selain keluar dari
kamarku menuju masjid, yang
disana ada para sahabat, dan kukatakan:” Rasulullah telah
wafat, Rasulullah telah wafat,
Rasulullah telah wafat.” Maka
mengalirlah tangisan di dalam
masjid. Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu anhu terduduk karena beratnya kabar tersebut,
‘Ustman bin Affan radhiyallahu
anhu seperti anak kecil
menggerakkan tangannya ke
kanan dan kekiri. Adapun Umar
bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata:” Jika ada
seseorang
yang mengatakan bahwa
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam telah meninggal, akan
kupotong kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi
untuk menemui Rabb-Nya
sebagaimana Musa alaihis salam
pergi untuk menemui Rabb-
Nya.”
Adapun orang yg paling tegar adalah Abu Bakar radhiyallahu
anhu, dia masuk kepada
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam,
memeluk beliau dan
berkata:”Wahai sahabatku, wahai kekasihku, wahai
bapakku.” Kemudian dia
mencium Nabi Shalallahu ‘Alaihi
Wassalam dan berkata : ”Anda
mulia dalam hidup dan dalam
keadaan mati.” Keluarlah Abu Bakar menemui
manusia dan berkata:”
Barangsiapa menyembah
Muhammad, maka Muhammad
sekarang telah wafat, dan
barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah
kekal, hidup, dan tidak akan
mati.” Maka akupun keluar dan
menangis, aku mencari tempat
untuk menyendiri dan aku
menangis sendiri.” Inna lillahi wainna ilaihi raji’un,
telah berpulang ke rahmat Allah
orang yang paling mulia, orang
yg
paling kita cintai pada waktu
dhuha ketika memanas di hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H tepat
pada usia 63 tahun lebih 4 hari.
semoga shalawat dan salam
selalu
tercurah untuk Nabi kiat tercinta
Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Langit Madinah kala
itu mendung.
Bukan mendung biasa, tetapi
mendung yang kental dengan
kesuraman dan kesedihan.
Seluruh manusia bersedih, burung-burung
enggan berkicau, daun dan
mayang kurma enggan
melambai,
angin enggan berhembus, bahkan
matahari enggan nampak. Seakan-
akan seluruh alam menangis,
kehilangan sosok manusia yang
diutus sebagai rahmat sekalian
alam. Di salah satu sudut Masjid
Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa
menahan tangisnya. Waktu shalat
telah tiba. Bilal bin Rabah, pria
legam itu,
beranjak menunaikan tugasnya
yang biasa: mengumandangkan adzan. “Allahu Akbar, Allahu
Akbar…” Suara beningnya yang
indah nan
lantang terdengar di seantero
Madinah. Penduduk Madinah
beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa
pria yang selama ini mengimami
mereka tak akan pernah muncul
lagi dari biliknya di sisi masjid.
“Asyhadu anla ilaha illallah,
Asyhadu anla ilaha ilallah….” Suara bening itu kini bergetar.
Penduduk Madinah bertanya-
tanya, ada apa gerangan. Jamaah
yang sudah berkumpul di masjid
melihat tangan pria legam itu
bergetar tak beraturan. “Asy… hadu.. an..na..
M..Mu..mu..hammmad…” Suara
bening itu tak lagi terdengar
jelas. Kini tak hanya tangan Bilal
yang bergetar hebat, seluruh
tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup
berdiri dan bisa roboh kapanpun
juga. Wajahnya sembab. Air
matanya mengalir deras, tidak
terkontrol. Air matanya
membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah
tempat ia berdiri kini dipenuhi
oleh bercak-bercak bekas air
matanya
yang jatuh ke bumi. Seperti tanah
yang habis di siram rintik-rintik air hujan. Ia mencoba mengulang
kalimat
adzannya yang terputus. Salah
satu kalimat dari dua kalimat
syahadat. Kalimat persaksian
bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH. “Asy…
ha..du. .annna…” Kali ini ia tak
bisa meneruskan
lebih jauh. Tubuhnya mulai
limbung. Sahabat yang tanggap
menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang
terpotong. Saat itu tak hanya Bilal
yang
menangis, tapi seluruh jamaah
yang berkumpul di Masjid
Nabawi, bahkan yang tidak berada di
masjid ikut menangis. Mereka
semua merasakan kepedihan
ditinggal Kekasih ALLAH untuk
selama-lamanya. Semua
menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari
semua
penduduk Madinah. Tak ada yang
tahu persis kenapa Bilal seperti
itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq
radhiyallahu anhu tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal
dari tugas mengumandangkan
adzan. Saat mengumandangkan
adzan, tiba-tiba kenangannya
bersama Rasulullah shalallahu
alaihi wasallam berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia
teringat bagaimana Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam
memuliakannya di saat ia selalu
terhina, hanya karena ia budak
dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah shalallahu
alaihi
wasallam menjodohkannya. Saat
itu Rasulullah meyakinkan
keluarga mempelai wanita
dengan berkata, “Bilal adalah pasangan
dari surga, nikahkanlah saudari
perempuanmu dengannya”. Pria
legam itu terenyuh
mendengar sanjungan Sang Nabi
akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan
mantan budak. Kenangan-
kenangan akan sikap
Rasul yang begitu lembut pada
dirinya berkejar-kejaran saat ia
mengumandangkan adzan. Ingatan
akan sabda Rasul, “Bilal,
istirahatkanlah kami dengan
shalat.” lalu ia pun beranjak
adzan, muncul begitu saja tanpa ia
bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut
yang meminta istirahat dengan
shalat. Bilal pun teringat bahwa ia
biasanya pergi menuju bilik Nabi
yang berdampingan dengan
Masjid Nabawi setiap mendekati waktu
shalat. Di depan pintu bilik Rasul,
Bilal berkata, “Saatnya untuk
shalat, saatnya untuk meraih
kemenangan. Wahai Rasulullah,
saatnya untuk shalat.” Kini tak ada lagi pria mulia di balik
bilik itu yang akan keluar dengan
wajah yang ramah dan penuh
rasa
terima kasih karena sudah
diingatkan akan waktu shalat. Bilal
teringat, saat shalat ‘Ied dan
shalat Istisqa’ ia selalu berjalan
di depan. Rasulullah dengan
tombak di tangan menuju tempat
diselenggarakan shalat. Salah satu
dari tiga tombak pemberian Raja
Habasyah kepada Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam. Satu
diberikan Rasul kepada Umar bin
Khattab, satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan
kepada Bilal. Kini hanya tombak
itu saja yang masih ada, tanpa
diiringi pria mulia yang
memberikannya tombak
tersebut. Hati Bilal makin perih. Seluruh
kenangan itu bertumpuk-tumpuk,
membuncah bercampur dengan
rasa rindu dan cinta yang sangat
pada diri Bilal. Bilal sudah tidak
tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan
Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk
tidak mengumandankan adzan
lagi, beliau mengizinkannya. Saat
Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu
Bakar kembali mengizinkan. Bagi
Bilal,
setiap sudut kota Madinah akan
selalu membangkitkan kenangan
akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena
rindu. Ia memutuskan
meninggalkan kota itu. Ia pergi
ke
Damaskus bergabung dengan
mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah
ditinggal
al-Musthafa, kini mereka ditinggal
pria legam mantan budak tetapi
memiliki hati secemerlang
cermin. Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu
untuk mengabulkan permohonan
Bilal sekaligus mengizinkannya
keluar dari kota Madinah, namun
Bilal mendesaknya seraya
berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan
dirimu sendiri, maka engkau
berhak menahanku, tapi jika
engkau telah memerdekakanku
karena Allah, maka biarkanlah
aku bebas menuju kepada-Nya.” Abu Bakar menjawab, “Demi
Allah, aku benar-benar
membelimu untuk Allah, dan aku
memerdekakanmu juga karena
Allah.” Bilal menyahut, “Kalau
begitu, aku tidak akan pernah
mengumandangkan azan untuk
siapa pun setelah Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wasallam
wafat.” Abu Bakar menjawab,
“Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal
pergi meninggalkan Madinah
bersama pasukan pertama yang
dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal
di daerah Darayya yang terletak
tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau
mengumandangkan adzan hingga
kedatangan Umar ibnul Khaththab
ke wilayah Syam, yang kembali
bertemu dengan Bilal Radhiallahu
‘anhu setelah terpisah cukup lama. Jazirah Arab kembali
berduka.
Kini sahabat terdekat Muhammad
shalallahu alaihi wasallam,
khalifah pertama, menyusulnya
ke pangkuan Ilahi. Pria yang
bergelar
Al-Furqan menjadi penggantinya.
Umat Muslim menaruh harapan
yang besar kepadanya. Umar bin
Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu,
menemui Bilal dan membujuknya
untuk mengumandangkan adzan
kembali. Setelah dua tahun yang
melelahkan; berperang melawan
pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku
Nabi, dan berupaya menjaga
keutuhan umat; Umar berupaya
menyatukan umat dan
menyemangati mereka yang
mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua
muslim ke masjid untuk bersama-
sama merengkuh kekuatan dari
Yang Maha Kuat. Sekaligus
kembali
menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal
untuk
kembali mengumandangkan
adzan. Bilal menolak, tetapi bukan
Umar namanya jika khalifah
kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan
membujuk. “Hanya sekali”,
bujuk Umar.
“Ini semua untuk umat. Umat
yang dicintai Muhammad, umat
yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar
cintamu kepada Muhammad,
maka tidakkah engkau cinta pada
umat
yang dicintai Muhammad?” Bilal
tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan
adzan. Hanya sekali, saat waktu
Subuh.. Hari saat Bilal akan
mengumandangkan adzan pun
tiba. Berita tersebut sudah tersiar
ke seantero negeri. Ratusan hingga
ribuan kaum muslimin memadati
masjid demi mendengar kembali
suara bening yang legendaris itu.
“Allahu Akbar, Allahu
Akbar…” “Asyhadu anla ilaha illallah,
Asyhadu anla ilaha illallah…”
“Asyhadu anna
Muhammadarrasulullah…”
Sampai di sini Bilal berhasil
menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan
kerinduan Bilal akan Sang Rasul,
menghasilkan senandung yang
indah lebih indah dari karya
maestro komposer ternama
masa modern mana pun jua.
Kumandang
adzan itu begitu menyentuh hati,
merasuk ke dalam jiwa, dan
membetot urat kerinduan akan
Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis
secara
spontan. “Asyhadu anna
Muhammadarrasulullah…” Kini
getaran resonansinya
semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam
rindu yang tak berujung. Tangis
rindu semakin menjadi-jadi. Bumi
Arab kala itu kembali basah akan
air mata. “Hayya ‘alash-
shalah, hayya ‘alash-shalah…” Tak ada yang
tak mendengar
seruan itu kecuali ia berangkat
menuju masjid. “Hayya `alal-
falah, hayya `alal-
falah…” Seruan akan kebangkitan dan
harapan berkumandang.
Optimisme dan harapan kaum
muslimin meningkat dan
membuncah. “Allahu Akbar,
Allahu Akbar…” Allah-lah yang Maha Besar, Maha
Perkasa dan Maha Berkehendak.
Masihkah kau takut kepada
selain-
Nya? Masihkah kau berani
menenetang perintah-Nya? “La ilaha illallah…” Tiada tuhan
selain ALLAH. Jika
engkau menuhankan Muhammad,
ketahuilah bahwa ia telah wafat.
ALLAH Maha Hidup dan tak akan
pernah mati. Subhanallah... Semoga kita termasuk umat yang
dirindukan Rasulullah SAW yang
selalu tetap istiqamah mengikuti
dan mengamalkan Sunnah -
Sunnah
Langganan:
Postingan (Atom)
